Dari Soligi ke Masa Depan, Kasman La Jaani dan Sertifikat yang Mengubah Nasib

AKSESNEWS.COM – Di bawah langit Pulau Obi yang cerah, seorang pemuda berdiri tegak dengan tangan bergetar menahan haru. Kasman La Jaani (18), pemuda asli Desa Soligi, menggenggam erat selembar sertifikat. Bagi sebagian orang, kertas itu mungkin hanya bukti kelulusan.
Namun bagi Kasman, sertifikat tersebut adalah monumen kecil kemenangan—tanda bahwa ia berhasil keluar dari jerat keputusasaan yang hampir merenggut mimpinya.
Kamis, 27 November 2025, menjadi hari yang tak akan ia lupakan. Kasman dinobatkan sebagai salah satu wisudawan terbaik program vokasi Bahasa Mandarin yang diselenggarakan oleh Harita Nickel. Sebuah pencapaian besar bagi pemuda desa lingkar tambang yang sempat berpikir untuk menyerah pada keadaan.
Persimpangan Hidup di Usia Muda
Di usia yang seharusnya diisi dengan mimpi dan rencana masa depan, Kasman justru dihadapkan pada pilihan paling sulit: melanjutkan pendidikan atau bekerja demi membantu ekonomi keluarga. Ia adalah tulang punggung harapan orang tuanya. Setiap keputusan terasa berat, setiap langkah mengandung risiko.
Harapan itu sempat tumbuh saat Kasman diterima sebagai peserta Program Peningkatan Keahlian dan Keterampilan Pemuda (PELITA) Angkatan ke-3, sebuah program intensif hasil kolaborasi Harita Nickel dengan lembaga IndoPanda. Selama enam bulan, peserta dibekali kemampuan Bahasa Mandarin sebagai bekal memasuki dunia kerja industri global.
Namun jalan menuju masa depan tak pernah benar-benar mulus.
Setiap hari, Kasman harus menaklukkan jarak dan medan sulit Soligi–Kawasi. Perjalanan panjang melelahkan menjadi rutinitas. Tetapi rintangan terberat bukanlah jalan berlumpur atau cuaca buruk, melainkan kondisi ekonomi keluarga yang terus menghimpit.
“Awalnya berat sekali. Saya merasa tidak sanggup dan ingin berhenti saja,” kenang Kasman lirih. Di kepalanya saat itu hanya ada satu pikiran: berhenti belajar dan bekerja serabutan agar dapur orang tuanya tetap mengepul.
Ketika Empati Mengalahkan Keputusasaan
Niat Kasman untuk mundur akhirnya terdengar oleh tim Corporate Social Responsibility (CSR) Harita Nickel. Bagi perusahaan, Kasman bukan sekadar peserta pelatihan, melainkan potensi lokal yang layak diperjuangkan.
“Kami mendengar cerita Kasman dan merasa sayang sekali jika ia berhenti. Kami melihat semangat dan harapan besar dalam dirinya,” ujar Ragil Pardiantoro, Community Development Supervisor Harita Nickel.
Alih-alih memberikan teguran administratif, tim CSR memilih pendekatan manusiawi. Mereka mendatangi langsung rumah Kasman di Desa Soligi, berdialog secara kekeluargaan dengan orang tua Kasman. Dalam pertemuan sederhana itu, tim menjelaskan bahwa kemampuan Bahasa Mandarin adalah “kunci emas” yang bisa membuka pintu masa depan jauh lebih besar dibanding penghasilan serabutan sesaat.
Kunjungan tersebut menjadi titik balik. Keraguan orang tua Kasman perlahan luruh, digantikan harapan baru.
“Saya bisa lanjut karena kakak-kakak CSR datang meyakinkan saya dan orang tua. Dari situ semangat saya bangkit kembali,” tutur Kasman.
Melampaui Batas, Mengubah Takdir
Dengan dukungan penuh keluarga, Kasman kembali menata langkah. Ia belajar lebih keras, melampaui rasa lelah dan keterbatasan. Dari 30 peserta yang memulai program, hanya 22 orang yang berhasil bertahan hingga akhir. Di luar dugaan, Kasman keluar sebagai lulusan terbaik kedua.
Prestasi itu menjadi bukti bahwa pemuda desa lingkar tambang bukan hanya penonton di tanah sendiri. Dengan kesempatan, pendampingan, dan kepercayaan, mereka mampu berdiri sejajar di panggung industri global.
Program PELITA tak sekadar mengajarkan bahasa, tetapi juga membangun mental, disiplin, dan kepercayaan diri. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan potensi lokal dengan kebutuhan dunia kerja masa depan.
Garis Start yang Baru
Hari wisuda bukanlah akhir perjalanan Kasman, melainkan garis start yang baru. Sertifikat yang ia genggam kini menjadi simbol perubahan nasib, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga bagi keluarganya.
“Saya percaya skill Bahasa Mandarin ini bisa membawa masa depan yang lebih cerah,” ucapnya dengan senyum penuh keyakinan.
Di balik senyum itu, tak ada lagi keraguan. Yang tersisa hanyalah kesiapan untuk menaklukkan tantangan hidup berikutnya—dari Soligi, menuju masa depan yang lebih terang. (*)




