
AKSESNEWS.COM, TERNATE – Harita Nickel gencar melakukan reklamasi pasca tambang di beberapa titik untuk pemulihan dan rehabilitasi lahan bekas pertambangan agar dapat digunakan kembali untuk menanam pohon dan membantu memulihkan ekosistem alam.
Bahkan lapisan tanah subur atau top soil di lokasi pertambangan dilakukan penumpukan atau disimpan agar digunakan kembali saat reklamasi di lokasi yang sudah ditambang. Hal ini sangat membantu mengembalikan keberlanjutan ekosistem dan kondisi tanah yang seimbang untuk dilakukan penghijauan.
Lokasi pertambangan Harita Nickel yang sudah dilakukan penghijauan dan berhasil itu dinamakan Pit Komodo. Beberapa jenis pohon yang ditanam sejak tahun 2019 telah tumbuh subur di lokasi seluas 11,83 hektare. Bahkan pemantauan rakyatmu, terlihat pohon Jati dan beberapa pohon berkualitas lain sudah bisa beradaptasi dengan kondisi lingkungan tersebut dengan ketinggian sekitar 6-7 meter.
“Kawasan Pit komodo adalah salah satu areal reklamasi untuk luas penanaman pohon periode tahun 2019 ada 11,83 hektare, namun secara keseluruhan 73,78 sesuai GPS sehingga total 201 hektare. Jadi sampai sekarang 2023 kurang lebih 5 tahun,” kata Nursery Operation Foreman PT TBP Steffani Silferansti belum lama ini.
Reklamasi dan penanaman ulang yang dilakukan oleh Harita sebagai bukti bahwa selain fokus menambang juga menjaga kelestarian lingkungan Pulau Obi. “Jadi salah satu upaya reklamasi eks tambang perusahaan yang bernama Pit Komodo ini jika dibandingkan dengan keasliannya jauh lebih orginal dari reklamasi sehingga bisa dikatakan berhasil dalam kawasan hijau,” ucapnya.
Tanaman yang ditanam kebanyakan tanaman pioner atau kelompok tanaman yang pertama kali tumbuh pada lahan pasca pertambangan. Selain itu, ada tanaman endemik juga tumbu di areal Pit Komodo. Bahkan tumbuhan lokal pun sudah bisa menyesuaikan dengan kondisi tanah pasca tambang.
“Tanaman lokal diantaranya adalah Jabon merah, atau kayu pertukangan kelas dua, cemara laut, kayu putih, meranti, dan lain. Untuk tanaman lokal digunakan referensi, misalnya di kawasi Pulau Obi ada sekian macam tanaman, itu yang diambil dan diperbanyak namun dibutuhkan tanaman yang cepat tumbuh salah satunya pohon cemara karena menjadi naungan pohon lain,” jelasnya.
“Karena di sini kita menyimpan top soil atau lapisan tanah subur saat menambang. Kemudian top soil digunakan kembali saat reklamasi, sehingga tanaman lokal pun bisa tumbuh dan jenis pohon lainnya juga tumbuh secara alami,” pungkasnya. (*)
Baca Juga :
Berita Terkait
PERHAPI dan KATAM Dukung Langkah Industri Nikel di Pulau Obi Untuk Diakui Dunia
TERNATE – Langkah Harita Nickel dalam mengejar sertifikasi dan audit keberlanjutan berskala internasional mendapat respon positif dari elemen di daerah. Perhimpunan Ahli...
BNI Perkenalkan Fitur Keamanan Baru, Penipuan Berkedok Telepon Kini Terbendung
AKSESNEWS.COM, TERNATE – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) kembali menghadirkan inovasi baru untuk meningkatkan keamanan layanan perbankan digital melalui aplikasi...
Ekonomi Malut Melonjak, Sherly Tjoanda Pilih Fokus Jalan Rusak dan Anak Putus Sekolah di Maluku Utara
AKSESNEWS.COM, TERNATE — Gubernur Sherly Tjoanda membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD 2027 Provinsi Maluku Utara di Bela Hotel, Kamis (7/5), dengan...
Gerak Cepat Pasca Gempa Ternate, Harita Nickel Salurkan Bantuan Logistik untuk Warga
AKSESNEWS.COM, TERNATE – Gempa bumi bermagnitudo 7,6 yang mengguncang Kota Ternate dan wilayah sekitarnya pada Kamis lalu menyebabkan kerusakan permukiman serta mendorong...
Kapolda Maluku Utara Pimpin Aksi Berbagi Takjil di Kota Ternate
AKSESNEWS.COM, TERNATE – Momentum bulan suci Ramadan dimanfaatkan jajaran Kepolisian Daerah Maluku Utara untuk semakin mendekatkan diri dengan masyarakat melalui aksi berbagi....
Inklusi Keuangan Malut Masih Tertinggal di Tengah Lonjakan Ekonomi, Ada Apa?
AKSESNEWS.COM, TERNATE – Di tengah lonjakan pertumbuhan ekonomi yang impresif, Provinsi Maluku Utara menghadapi ironi dengan sektor yang menyerap tenaga kerja terbesar...







